Posts

AA Lithium: The Unexpected Danger to Your Portable Strobes

Awas! Jangan Ngebut Pakai Baterai Lithium AA di Flash Kamu, Bahaya Banget Nih!

Halo, teman-teman pecinta fotografi! Siapa di sini yang suka hunting foto pakai flash eksternal atau speedlight? Pasti banyak dong ya! Nah, ngomongin soal flash, kita sering banget kan pusing cari baterai yang pas, yang bisa bikin recycle time cepet dan tahan lama? Biasanya yang kepikiran langsung baterai Lithium AA karena katanya *power*nya gede dan ringan.

Tapi, tunggu dulu! Pernah dengar nggak sih kalau pakai baterai Lithium AA (yang sekali pakai atau bahkan yang rechargeable 1.5V Li-ion) di flash atau strobe portabel itu bisa berabe? Iya, beneran! Bukannya bikin keren, malah bisa bikin *flash* kesayangan kamu zonk alias rusak parah. Wah, kok bisa? Yuk, kita bedah tuntas kenapa ini jadi peringatan penting buat kita semua.

Stop Using AA Lithium Batteries in Portable Strobes and Speedlights
Sumber: PetaPixel

Kenapa Sih Lithium AA Itu Ngajak Ribut Sama Flash Kita?

Oke, mari kita ngobrolin teknis dikit, tapi santai aja ya. Kebanyakan flash atau speedlight portabel kita itu didesain buat bekerja optimal dengan baterai AA yang punya voltase nominal 1.2V (kayak NiMH) atau 1.5V (kayak alkaline). Nah, masalahnya muncul ketika kamu pakai baterai Lithium AA.

Baterai Lithium AA (khususnya yang sekali pakai kayak Energizer Ultimate Lithium) itu awalnya punya voltase yang lebih tinggi, bisa di atas 1.7V pas baru banget dipakai. Nah, yang rechargeable Li-ion 1.5V itu juga kadang punya output awal yang lebih tinggi dari 1.5V standar. Meskipun kedengarannya cuma beda dikit, di dunia elektronik, ini bisa jadi masalah besar, lho! Ibaratnya, kamu minum kopi tapi disuruh minum air keras. Keren sebentar, tapi habis itu rusak semua.

Terus, nggak cuma soal voltase awal yang gede. Baterai Lithium juga punya kemampuan ngeluarin arus (current) yang super gedee banget, alias *internal resistance*nya rendah. Ini yang bikin dia cocok buat perangkat yang butuh daya besar secara instan, kayak bor listrik atau senter high-power. Tapi buat flash kamera? Nah, ini dia PR-nya.

Ketika flash kamu minta daya, baterai Lithium ini bisa ngasih daya *ngebut* banget, jauh di atas apa yang bisa ditangani sama sirkuit flash. Akibatnya? Flash kamu jadi *overload* alias kebanyakan beban. Ini bisa bikin komponen-komponen di dalam flash jadi panas banget, bahkan sampai ada yang gosong atau meleleh. Ngeri banget, kan? Padahal niatnya biar *recycle time* cepet, eh malah flash-nya jadi almarhum.

OMDS and Lumix Speedlights
Sumber: PetaPixel

Kronologi Kerusakan: Gimana Ceritanya Bisa 'Mati Konyol'?

Mungkin kamu mikir, "Ah, palingan cuma panas dikit." Eits, jangan salah! Kerusakan ini nggak langsung terjadi kayak ledakan bom, tapi perlahan-lahan. Awalnya, kamu mungkin ngerasa flash kamu kok cepet banget panasnya, apalagi kalau lagi sesi foto yang intens, kayak motret acara resepsi atau fashion show yang butuh banyak flash. Atau, recycle time-nya kadang cepet banget, kadang malah ngaco.

Lama-kelamaan, komponen-komponen vital di dalam flash, terutama bagian power circuit dan capacitor, mulai stress. Mereka dipaksa kerja di luar batas toleransinya. Panas berlebih bisa bikin solderan jadi retak, komponen elektronik jadi lemah, bahkan bisa bikin capacitor jadi bocor atau meledak kecil. Kalau sudah begini, flash kamu tinggal nunggu waktu aja buat "pamit."

Banyak banget kasus yang sudah muncul di forum-forum fotografi atau bahkan dari teknisi resmi. Mereka sering menemukan flash yang rusak karena penggunaan baterai Lithium AA. Bahkan beberapa produsen flash besar kayak Canon atau Nikon, di buku manualnya, seringkali *explicitly* merekomendasikan baterai NiMH dan memperingatkan untuk tidak menggunakan jenis baterai lain yang tidak sesuai spesifikasi. Ini bukan cuma mitos, tapi fakta yang sering diabaikan. Jangan sampai kamu jadi korban berikutnya, ya!

Eneloop Pro Batteries
Sumber: PetaPixel

Statistiknya Bikin Mikir: Data Nggak Bohong, Bro!

Yuk, kita bandingkan sedikit biar kamu makin yakin. Ada beberapa jenis baterai AA yang umum kita pakai:

  • Baterai Alkaline (1.5V): Ini yang paling murah dan gampang dicari. Tapi, recycle time-nya biasanya lambat dan power-nya cepet banget drop. Jumlah flash yang bisa dihasilkan juga sedikit. Plus, sekali pakai, langsung buang. Jadi, dari segi efisiensi dan lingkungan, kurang banget.
  • Baterai NiMH (Nickel Metal Hydride) (1.2V): Nah, ini dia bintangnya! NiMH kayak Eneloop Pro, IKEA LADDA, atau Powerex itu punya voltase yang lebih stabil (sekitar 1.2V) dan kemampuan ngeluarin arus yang pas buat flash. Recycle time-nya cepat dan konsisten, plus bisa di-charge ulang ratusan kali. Ini adalah rekomendasi utama dari banyak fotografer profesional dan produsen. Kalau ngomongin performa dan ketahanan gear, NiMH ini juaranya!
  • Baterai Lithium AA Sekali Pakai (1.5V – tapi awal bisa >1.7V): Ringan, punya kapasitas besar, dan voltase awal yang tinggi. Ini yang bikin dia ngasih recycle time super ngebut di awal. Tapi ya itu tadi, voltase tinggi dan kemampuan arus yang nggak terkontrol ini yang jadi bumerang buat sirkuit flash. Kelebihan buat flash? Hanya kecepatan sesaat, tapi risikonya fatal.
  • Baterai Rechargeable Li-ion AA (1.5V *Constant Output*): Ini jenis baru yang menjanjikan output 1.5V konstan sampai habis. Kedengarannya bagus kan? Tapi, lagi-lagi, sirkuit flash mungkin nggak didesain buat voltase konstan seperti ini. Beberapa flash lebih suka voltase yang turun secara bertahap (seperti NiMH atau alkaline) untuk mengelola *power* secara aman. Ada laporan juga kalau baterai jenis ini, meskipun 1.5V konstan, tetap bisa membebani sirkuit karena *surge current* atau cara *flash* membaca resistansi internal baterai. Intinya, kalau produsen flash kamu nggak merekomendasikan, jangan coba-coba, deh.

Secara persentase, risiko kerusakan karena penggunaan baterai Lithium AA (baik yang sekali pakai dengan voltase awal tinggi maupun *rechargeable Li-ion* dengan output konstan) itu jauh lebih besar dibandingkan NiMH. Meskipun kita nggak punya data pasti berapa persen flash yang rusak karena ini, laporan dari teknisi dan pengalaman fotografer menunjukkan bahwa ini bukan kasus langka. Jangan ambil risiko buat gear mahal kamu, ya!

Lithium Battery in SB-900
Sumber: PetaPixel

Kata Para Suhu dan Produsen: Jangan Ngeyel Deh!

Percayalah, teman-teman. Saran ini bukan cuma omong kosong belaka dari para "suhu" di dunia fotografi. Hampir semua produsen flash terkemuka, mulai dari Canon, Nikon, Godox, sampai Profoto (untuk flash yang masih pakai AA), pasti merekomendasikan penggunaan baterai NiMH. Kenapa? Karena NiMH lah yang paling cocok dan paling aman buat sirkuit flash mereka.

Mereka sudah mendesain flash tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik voltase dan arus dari baterai NiMH. Menggunakan baterai yang mengeluarkan daya di luar batas desain itu sama saja dengan memaksakan mobil balap lari di jalanan bebatuan. Bisa sih, tapi ya rusak di tengah jalan. Lagipula, mereka nggak mau kan produknya rusak dan bikin nama baik mereka jelek? Jadi, kalau ada peringatan dari produsen, itu demi kebaikan kita juga.

Ingat, flash itu investasi yang nggak murah. Jangan sampai karena ingin sedikit lebih cepat atau sedikit lebih ringan, kamu malah harus keluar uang lebih banyak buat service atau beli flash baru. Mendingan mencegah daripada mengobati, kan?

SLAC Battery Research
Sumber: PetaPixel

Pilihan Aman Buat Flash Kesayanganmu

Nah, sekarang kamu sudah tahu kan risikonya? Jadi, apa dong pilihan terbaik buat baterai flash kamu biar aman dan tetap performa? Jawabannya jelas: Baterai NiMH. Merek seperti Eneloop Pro dari Panasonic atau LADDA dari IKEA itu sudah jadi pilihan favorit banyak fotografer karena kualitas dan konsistensinya. Harganya memang sedikit lebih mahal di awal, tapi kalau dihitung-hitung dari kemampuan di-charge ulang, jauh lebih hemat kok!

Baterai NiMH ini menawarkan:

  • Voltase Stabil: Sesuai dengan desain flash, aman buat sirkuit elektronik.
  • Recycle Time Cepat & Konsisten: Nggak kalah sama Lithium, terutama yang versi "Pro" dengan kapasitas lebih tinggi.
  • Tahan Lama: Bisa di-charge ratusan sampai ribuan kali, hemat uang dan ramah lingkungan.
  • Tidak Gampang Panas: Meminimalisir risiko overheating pada flash.

Kalau kamu sering pakai flash untuk kerja yang intens, bisa juga pertimbangkan untuk pakai external power pack. Alat ini biasanya pakai baterai Li-ion khusus berkapasitas besar dan punya sirkuit manajemen daya yang canggih untuk menyalurkan daya secara aman ke flash. Ini solusi *ultimate* buat kerja berat tanpa khawatir baterai internal flash kamu jebol. Tapi, untuk pemakaian normal, NiMH sudah lebih dari cukup dan sangat direkomendasikan!

Godox Lighting Demystified
Sumber: PetaPixel

Jadi, teman-teman, jangan sampai gara-gara tergiur sama kecepatan sesaat, kita malah mengorbankan flash kesayangan kita. Lebih baik aman dan tahan lama dengan baterai NiMH yang terbukti, daripada ambil risiko yang bikin nyesek. Yuk, mulai sekarang cek lagi baterai flash kamu! Pastikan yang kamu pakai adalah NiMH berkualitas. Kalau belum punya, jangan tunda lagi untuk beli. Anggap ini sebagai investasi kecil untuk menjaga alat tempur fotografimu tetap prima!

Ingat, menjaga peralatan itu juga bagian dari profesionalitas. Tetap semangat motret, dan semoga hasil karyamu makin kece! Insya Allah, Allah akan mudahkan segala urusan kita, termasuk dalam menjaga barang-barang kita. Keren banget kan kalau kita bisa pakai alat dengan bijak?

About the author

Wihgi
An Indonesian digital natives, tech savvy generation. Blogging about internet of things, photography, technology review, tips & tricks. Work as Freelancer. And still a lifetime learner.

Join the conversation